Tapi aku tak berani!
Aku ingat kasih setiaNya dalam hidupku, mana berani aku terus meminta dan meminta sambil mengeluh!
Satu banding sejuta...perbandingan ’hal-hal malang’ dan kebaikan yang aku alami karena Dia...masa kan aku masih mau mengeluh dan melupakan hal baik yang terus dilakukanNya padaku!
Ayub memiliki keluh kesah satu kitab. Saat ia mengalami pencobaan berat. Saat ia dihakimi oleh teman-temannya. Padahal sejatinya, ia tidak sepatutnya dihakimi. Ia tetap takut sama Tuhan, bahkan dalam keluh kesahnya. Hal ini tercermin sampai akhir pencobaannya!
Daud dapat menulis mazmur-mazmur indah. Bahkan dalam pelarian dan masa-masa kesesakan, mazmur termanis dapat keluar darinya. Menginspirasi!
Rasul Paulus menulis berbagai pengajaran untuk jemaat-jemaat Allah. Pengajaran tentang kebenaran. Pengajaran yang menguatkan. Walaupun ada duri dalam dagingnya. Walaupun hidup perjalanannya mengiring Tuhan tidaklah mulus. Mampu melompat tinggi dari tingkat seorang yang menentang Kristus menjadi radikal bagi Kristus. Radikal sampai akhir hidupnya. Setia sampai akhir!
Aku ingin memiliki sedikit saja.....keberanian Ayub berkeluh kesah, kemampuan Daud menuliskan mazmurnya bagi Tuhan dalam keadaan apapun, dan kesetiaan serta keradikalan Paulus dalam perjalanannya mengikut Tuhan!
Tidak sedikit...tapi juga tidak sangat banyak, yang berani dan dapat aku tuangkan dalam tulisan-tulisan saat fisikku lemah...
Aku ingin membagi berkat, bukan berbagi kesakitan!
Tapi alangkah inginnya aku mencurahkan seluruhnya...sampai aku sendiri, dan kamu-kamu sadar dan teringat lagi akan segala kasih karunia Tuhan dalam tiap detail kehidupan...
Bahwa orang yang merasa miskin adalah orang yang sangat tidak bersyukur!! Kita tidak perlu menjadi kaya raya untuk bisa bersyukur. Dan sebaliknya, kita tidak perlu kehilangan harta benda dan kekayaan untuk merasa miskin. Semuanya cuma tergantung dari sikap hati kita. Apa hati kita tetap mau bersyukur dalam segala sesuatu atau tidak! Dan apa kita mampu menilik lebih dalam, bahwa hidup kita pun merupakan suatu kekayaan yang Tuhan kasih buat kita. Saat kita masih bernafas, saat itulah kita masih kaya!! Kaya akan kemurahan dan anugerah Tuhan!
Sesungguhnya saat mata masih bisa melihat, kita masih kaya. Bayangkan orang yang tak bisa melihat. Bayangkan orang yang matanya selalu perih dan iritasi. Melihat sesuatu seperti siksaan... Tapi orang yang memiliki mata sehat, menganggap kesehatan matanya itu hal sepele. Memang sepatutnya seperti itu. Hei, kita lupa, mata sehat yang dapat dengan normal dan baik melihat ke sekeliling, melihat awan di langit, bintang pada malam hari, dan bertatapan dengan keluarga dan orang-orang yang kita kasihi, itu adalah anugerah!
Juga saat kaki pun masih menjadi anggota tubuh yang berfungsi dan terstruktur rapi, kita masih kaya. Setiap saat kita bisa berjalan, berlari, melompat, berkendaraan, main bola, main sepeda, berolahraga, atau mungkin mengangkat kaki ke kursi dengan mudahnya, saat itu kita juga masih kaya. Dan itu mahal banget harganya. Ga ternilai sama sekali! Bayangkan orang-orang yang tulang kakinya patah, retak, atau kakinya bengkak, lumpuh, terlebih lagi tidak punya kaki. Apa namanya? Oh ya, cacat!
Setelah kakiku bermasalah belakangan ini, aku terus semakin menyadari kekayaan-kekayaan yang aku punya, karena setiap anggota tubuhku masih berfungsi dengan amat baik selama ini. Dan alangkah jarangnya aku mengucap syukur untuk semuanya itu. Satu per satu. Secara detail. Berlebihan? Ga sama sekali. Karena saat satu aja anggota tubuh kehilangan fungsinya atau tidak bisa berfungsi sebagaimana adanya, baru kita tahu bahwa setiap anggota tubuh kita itu penting! Memiliki keutuhan itu kekayaan. Kesehatan itu pun kekayaan!
Aku pernah mengalami masa-masa kejayaan, secara materi *ga berarti kaya raya lohh, maksudnya semua berkecukupan dan malah bisa berlebih*. Semua mudah tercapai. Keinginan mudah didapatkan. Pun disaat itu selalu saja ada yang kurang. Ternyata materi melimpah ga bisa membeli kebahagiaan dan kepuasan. Yang ada ego semakin lebar.
Aku juga pernah mengalami masa penuh kekurangan. Tapi sebenarnya tidak kekurangan materi sih, selalu bisa berkecukupan. Pas banget. Tak berlebih. Untuk kebutuhan, bukan keinginan. Pernah tuh merasakan selama berbulan-bulan ga pernah makan di luar, jalan-jalan ke mall *takut kecantol beli sesuatu*, nonton bioskop...ga ada deh yang namanya enak-enak, sekedar refreshing yang mengeluarkan biaya. Tapi saat itu, kekurangan materi, aku mendapat limpahan berkat Tuhan untuk selalu cukup. Aku menyebutnya masa padang gurun. Ga bisa berharap sama apa pun: sama rekening di bank, pendapatan, apalagi orang lain. Cuma bisa berharap sama Tuhan. Masa-masa penuh tanda tanya. Masa-masa gersang. Juga masa-masa belajar untuk percaya sama Tuhan secara penuh. Masa-masa untuk menengadah dan berharap.
Yang paling nyesekkin, ternyata kalau sakit fisik! Itu lebih ga enak dibanding miskin harta. Waktu miskin harta, aku masih punya kesehatan dan anggota tubuh yang utuh, tak kekurangan suatu apapun. Tinggal bagaimana aku bisa menggunakannya dengan bijak untuk mencari sesuap nasi! Sedangkan kalau sakit fisik, sesuatu yang paling menguras tenaga-pikiran-perhatian dan membuatku tak bisa berkutik! Tapi aku yakin, proses kesembuhan sedang dan terus berlangsung. Sempurna!
Ternyata semuanya pasti berlalu. Ga ada yang abadi. Kejayaan ga abadi. Kekurangan ga abadi. Penderitaan ga abadi. Bahkan sakit penyakit pun ga akan abadi... Yang kurasakan dan kuketahui paling abadi cuma kasihnya Tuhanku. Dalam keadaan apapun, Dia selalu ada. Dalam masa kejayaanku, Dia ada. Dalam masa kesesakanku, Dia ada. Bahkan saat ada di batas kekuatan manusiaku, kasihNya tetap ada untuk memberi aku kekuatan menghadapi apapun! Thank You, Lord...
Dan saat ini, aku terus belajar... Berjalan bukan karena melihat, tapi karena iman!!
Aku bisa terus bertahan, bukan karena melihat keadaanku sekarang yang justru bisa semakin melemahkanku, bukan juga karena kekuatanku sendiri *mana sanggup sendirian aku, kalau dalam keadaan sakit gini masih juga bisa kerja dan kuliah*... Tapi aku bisa bertahan karena iman. Iman adalah landasan hidupku sekarang untuk menantikan kesembuhanku. Iman adalah harapanku untuk melihat bahwa aku bisa berjalan normal lagi, lari, lompat, bahkan bawa motor lagi!!
Pelajaran yang kudapat:
Satu: Aku ga bisa melihat kasat mata ke tulang-tulang kakiku, tapi Tuhan sanggup menembus sampai ke dalam tulang-tulangku. Dia Penciptaku kok! Dia yang membentuk aku dari tidak berupa apa-apa sampai bisa punya tulang, daging, kulit, dan jadilah aku: manusia – ciptaanNya yang baik dan utuh. Masa kan tulang retak aja sulit direkatkan seperti sediakala lagi!! (teringat pada manusia pertama. Tuhan membuat Adam tertidur dan mengambil satu tulang rusuknya dan menciptakan Hawa. Masa kan Tuhan yang sama tak mampu melakukannya lagi. Tentu saja Dia bisa. Saat aku tidur di malam hari, Dia bisa merekatkan tulangku lagi. Atau lebih dahsyat lagi, Dia bisa mengganti tulangku yang retak dan disusunNya lagi tulang yang baru, yang lebih kuat dan sehat... Aku percaya Engkau bisa kok, Tuhan... Bahkan lebih lagi dari yang dapat aku bayangkan!!)
Dua: Bukanlah masalah besar kalo kakiku sakit, toh jiwa dan hatiku tetap sehat!
Tiga: Ternyata jarak antara keterbatasan manusia dan ketidakterbatasan Tuhan adalah iman!
Empat: Batas yang membedakan ’iman kepada Tuhan’ dengan ’kemampuan manusia’ adalah kemustahilan!
Lima: Segala sesuatu di sekitar kita tidaklah semakin baik, tapi kasih Tuhan selalu lebih nyata dalam hidupku, apapun yang terjadi!
Catatan Penulis:
Tulisan ini dibuat tanggal 3 Maret 2010, saat tulang kakiku masih juga retak akibat jatuh dari motor...
Aku baru bisa menggunakan kaki dengan lancar setelah 2,5 bulan sejak aku jatuh tgl 7 Febuari 2010...sampai sekarang, kejadian ini merupakan pengalaman berharga dan tetap indah bersama Tuhan :) apalagi melihat sekarang semuanya tetap baik..tak ada masalah dengan kakiku dan keseharianku dalam berkendaraan...ALL IS WELL...
Ps. Mampir juga yukk ke tulisan pertamaku saat aku baru 2 hari jatuh dari motor di postingan di bawah ini...Semoga memberkati :)