Maret 24, 2010

Biarkan Ia Sendiri

Sudah sejak lama manusia membiarkan jiwanya tersudut. Terkurung di tempat paling dalam di pikirannya. Berpikir dan bertindak berdasarkan rasio dan sudut pandang manusiawinya. Tak membiarkan sedikit pun jiwa turut andil dalam setiap pertimbangannya...

Hingga saat itu... Saat di mana manusia merasa segala sesuatunya salah. Segala yang dia anggap benar menjadi sangat tidak benar. Sudut pandang yang menurutnya terbuka, ternyata hanyalah sudut pandang sempit yang sangat terbatas... Beberapa waktu belakangan ini si manusia merasa kalau dunianya diputarbalikkan. Atau mungkin dunia memang sudah terbalik? Entahlah...

Kali ini dia berbisik kecil ke tempat terdalam di dirinya... ia mencari jiwanya... Yahh, hanya untuk berdiskusi, bertukar pikiran... bukan berdebat...

Biarkanlah manusia meluangkan waktu sebentar saja bagi jiwanya... Agar kebenaran sejati bagi dirinya bisa terkuak, bukan cuma ceceran-ceceran kebenaran yang dipungutnya dari orang lain...

Maret 23, 2010

New Spirit

Tes... tes... tes...
Mencoba menapaki hari yang baru

Siap... siap... siap...
Menyambut situasi yang akan datang

Deg... deg... deg...
Hati bergemuruh menantikan hari depan

Hop... hop... hop...
Tetap semangat walau pun banyak rintangan

Posting Pertama yang Tidak Penting – Profil Si Empunya Blog :)

VINA VENYLIA. Sebut saja, Vina. Ia lahir di Jakarta, 8 Juli 1989. Menurut penuturan mama-papanya, nama yang kini disandangnya merupakan pemberian dari kakak laki-laki papa-nya.

Ia termasuk tipe orang yang tidak pernah pusing tentang arti sebuah nama. Sampai akhirnya, ia cukup penasaran dan mencari arti namanya itu. Sayangnya, dari sekian buku nama-nama bayi yang ia lihat waktu hunting buku di toko buku terkenal, cuma ada 1 buku yang memuat arti nama Vina. Menurut buku itu, nama Vina berasal dari bahasa Indonesia, yang artinya dipanggil untuk menang. Senanglah ia. Bahwa nama yang disandangnya memiliki arti bagus dan merupakan doa pribadinya :)

Sedari kecil, ia senang sekali melihat kakak perempuannya, yang selisih 2 tahun di atasnya, sudah bersekolah. Ia pun ingin bersekolah. Tapi baru terealisasi 2 tahun kemudian. Tepat pada saat usianya 4 tahun, ia baru masuk sekolah, TKK Pancaran Berkat. Dilanjutkan pada usia 6 tahun, SDK Pancaran Berkat. Dan masa-masa pubernya, dari SMP-SMU dihabiskan di sekolah Kristen Yusuf.

Ia sangat mencintai Tuhan-nya, orangtuanya, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya. Ia tipe orang yang setia. Tidak mudah berteman dekat dengannya, bukan karena pemilih, tapi karena ia memang suka kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, di mana ia diharuskan bertatap dan berbicara langsung dengan orang-orang baru. Lain halnya dengan dunia maya, di mana tulisan dan perkenalan virtual lebih banyak berperan, ia mampu beradaptasi dengan lebih baik.

Ia suka menulis. Menurutnya, tulisan merupakan jiwanya. Di mana, ia bisa berkreasi, berpendapat, dan berkata secara terperinci mengenai hidup dan setiap yang ia alami. Sejak SMP, ia menulis diary. Sejak SMU, ia masih suka menulis diary, puisi, dan sedikit cerpen. Di mana kebanyakan isinya hanya berupa karangan bebas, yang menceritakan dunianya sendiri: pandangan, prinsip, pengalaman sendiri, dan pengalaman orang lain pula. Beberapa blog juga sudah dibuatnya, tapi tidak ada yang eksis dan bertahan lama. Tentunya kali ini, ia berharap blog-nya kali ini bisa terus eksis. Blog tentang dunianya :)

Selepas SMU, ia bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi di Jakarta Barat sebagai administrasi support selama 1 tahun. Kemudian, pindah kerja di salah satu perusahaan farmasi obat hewan sebagai staff accounting sambil melanjutkan studi S1-nya. Jadi, sekarang ia kerja sambil kuliah. S1-nya sedang ditempuh di Universitas Indonusa Esa Unggul, Fakultas Ekonomi – Akuntansi.

Tujuan ia kuliah, selain untuk masa depan yang lebih menjanjikan dengan gelar sarjana *yang padahal ia sendiri tidak yakini kebenaran dari statement tersebut*, ia juga ingin membuat bangga kedua orangtuanya. Dan itulah tujuan utamanya mau dan sanggup bertahan untuk tetap melanjutkan kegiatan kerja sambil kuliahnya, yang ternyata sangat menguras pikiran, tenaga, waktu, prioritas, dan cukup memporak-porandakan hidupnya.

Hei, jangan berpikir kalau kegiatannya itu membuat ia menyesal karena telah memporak-porandakan hidupnya. Sebaliknya, ia sangat bahagia. Klise? Tidak sama sekali! Dia bahagia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, apalagi orangtuanya sendiri, bukan buat dirinya sendiri. Bodoh mungkin. Menjalani sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuh hati diinginkannya, tapi dijalani dengan tindakan sepenuh hati.

Bukan tidak ingin kuliah, malah ia sangat ingin kuliah. Tapi masih banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memilih jurusan kan. Dan itu ia kesampingkan dengan alasan bahwa jurusan yang ia ambil sekarang sesuai dengan pekerjaannya dan pasti dibutuhkan oleh tiap perusahaan, berapa pun banyaknya jumlah lulusan jurusan tersebut!

Ia pun bukannya tidak bisa pelajaran Akuntansi dan semacamnya. Ia justru sangat menyenangi pelajaran logika dan hitung-hitungan dibandingkan dengan pelajaran menghapal. Tapi jiwanya tidak sepenuhnya di sana.

Jadi, setelah mengambil keputusan dengan setengah hati dan kemudian melanjutkan dengan tindakan sepenuh hati, ia yakin kalau ia tidak akan menyesal. Toh setelah menempuh pendidikan S1-nya ini, orangtuanya melihat ia di wisuda, bahkan cum laude kalau bisa, ia bisa melanjutkan hidupnya lagi. Mencoba mencari dan mengikuti kata hatinya sendiri, ke mana nurani menuntunnya. Semoga saja.

Tak lupa pula, ia patut bersyukur sama Tuhan. Atas segala anugerah-Nya. Bahkan dalam segala hal yang ia lakukan pun, Tuhan selalu menyertai dan membuatnya berhasil. Membuat ia semakin bersemangat, didukung, dan disertai oleh Penciptanya. Kenyataan bahwa apapun keputusan yang ia ambil, yang terbaik selalu diberikan-Nya asalkan ia mau juga berusaha yang terbaik.