April 29, 2010

Pada-Mu Kembali

Saat semua habis lenyap
Hanya tinggal Kau tetap

Saat semua pergi lepas
Hanya pada-Mu kuberpaling

Saat kucari yang setia
Hanya pada-Mu kutemukan

Pada-Mu jua kukembali pulang
Tak ada tempat lain lagi
Setenang saat kubersama-Mu

Pada-Mu kucurahkan semua
Pada-Mu kutumpahkan semua
Karena hanya Kau yang paling mengerti
Karena hanya Kau yang paling peduli

Bahkan terdalamnya,
Yang tak terjangkau jiwa dan hatiku,
Engkau pun mengetahuinya

Tak perlu pakai topeng apa pun saat aku menghampiri-Mu
Aku bisa jadi buaya, belut, ular, kucing, singa…
Aku bisa jadi apa pun tanpa takut Kau menolakku

Aku harap Kau tak melihat bagaimana cara aku menghampiri-Mu
Tapi lihat hatiku…
Hatiku yang merindukan-Mu lagi
Hatiku yang akhirnya sadar bahwa tak ada tempat lain lagi
Selain Engkau…

Aku kembali, Tuhan…
Hanya pada-Mu aku berpulang…

Walau ada badai bersamaku
Tapi kutenang s’bab Engkau bersamaku

Teduh, saat aku bersama-Mu

April 28, 2010

Baru Kusadar

Aku tak pernah tahu rasanya
Sampai ia sendiri yang meraihku

Kunikmati setiap pesonanya
Kugenggam setiap aktual yang terjadi
Kubingkai dalam hati rasa itu
Menyimpan asa yang semakin melambung tinggi

Terlambat aku sadar...
Nyata memang tak seindah angan
Kau tak memiliki rasa yang sama!

Aku terus memandang bintangmu
Terlalu jauh untuk kurengkuh
Tapi... bukankah bintang pun dapat jatuh?
Asaku masih saja berkobar di kala itu


Kemudian semakin kusadar pula...
Rasa ini membawa dua nuansa yang berbeda bagiku:
Bahagia dengan harap yang besar dan berakhir manis,
oase-mu hadir di gurun tandus hatiku
Pahit dengan kenyataan yang semakin membentang,
bahwa harapku hanyalah fatamorgana

Ternyata aku pun masih sendiri di padang gurun ini
Selalu dahaga akan air cintamu
Menahan hasrat yang memberangus
Malahan membuat aku mati rasa karena kepanasan dan gairah


Bisakah aku tak melihatmu saja?
Profil mukamu, maksudku...
Karena aku selalu melihatnya dalam pikiranku
Dan ingin sekali membuatnya hengkang
Mematikan dirimu dan rasa ini dari keseluruhan ragaku

Sekali lagi baru kusadar...
Aku malah tak berhak mempersalahkanmu
Rasaku sendirilah yang memilihmu!

April 26, 2010

Kau Mimpiku

Datang mengetuk pintu
Kusambut hangat
Indah...
Angan melayang...

Lalu apa?

Kau pergi
Tanpa pamit
Tanpa ucap kata

Ingin melupakan
Tapi merindukan jua
Merindukan begitu dalam...

Ingin mengambilmu dari anganku
Dan memelukmu erat

Hingga tak lepas lagi
Hingga tak terpisahkan...

Dia Begitu Indah

Sebuah keindahan terpancar dari matanya
Sorot mata yang meneduhkan setiap mata yang menatapnya...
Belum pernah dijumpai sosok yang menyerupainya

Hatinya yang selalu putih, tulus, dan lapang membuat banyak orang mengaguminya
Perbuatan baiknya tak pernah lupa ia berikan pada tiap-tiap orang...
Ah, andai saja semua orang seperti dia, betapa damai, tenteram, dan indahnya dunia ini!

Namun ternyata kebaikan dan kehidupan yang terpancar dari hatinya, belum mampu memenangkan seseorang yang dicintainya...
Banyak yang berharap-harap mendapatkan cinta darinya, tapi malah ada seorang yang menolaknya habis-habisan... Ironis!

Tapi dia terus berjalan... terus menjalani kehidupannya
Kehidupan yang tak mudah dan penuh rintangan...
Sambil tetap menjaga hati untuk cintanya seorang,
Juga tetap menebarkan cinta untuk tiap-tiap orang yang ditemuinya

Ahhh... indah sekali dia!

April 23, 2010

Mencintai dan Dicintai

Kemari aku di-tag-in sebuah catatan di salah satu jejaring sosial. Ceritanya singkat tapi daleeeemmm banget!! Catatan ini di-tag sama teman SMU-ku, Aida Trisno...

Suatu hari, seseorang yang sedang putus cinta menangis di taman.
Saat itu datang seorang ahli filsafat bertanya kepadanya, “Kenapa kamu menangis?”
Orang itu menjawab, “Aku sangat sedih, kenapa dia meninggalkanku?”
Lalu ahli filsafat itu tertawa sambil berkata, “Kamu bodoh sekali!”
Lalu orang itu menjawab, “Kamu ini bagaimana? Aku sedang putus cinta sudah cukup menyedihkan. Tak apalah kalau kamu tak membujukku, tapi kamu masih juga menertawaiku!”
“Bodoh, kamu tak perlu sedih, karena yang seharusnya sedih adalah dia,” kata si ahli filsafat.
“Kenapa dia yang bersedih, ‘kan dia yang memutuskanku?” kata orang itu.
Ahli filsafat itu menjawab, “Karena kamu hanya kehilangan orang yang TAK mencintaimu, tetapi dia kehilangan orang yang SANGAT mencintainya...”


***

Pertama kali baca catatan itu, aku ngerasa tulisan itu dalem. Tepatnya kata-kata terakhir si filsafat itu. Benarkah yang dia bilang? Harusnya benar. Dan memang benar sih. Tentu orang itu sedih karena ia kehilangan orang yang ia cintai. Tapi alangkah lebih malangnya nasih orang yang dicintainya itu, karena justru ia kehilangan orang yang mencintainya.

Sedetik kemudian, aku teringat sama seseorang. Bukan seseorang yang pernah membuatku patah hati. Tetapi justru orang yang patah hati karena aku!! Dan kamu tahu apa yang dibenakku saat itu? SADIS!!

Buat orang yang hanya membacanya, cerita itu menarik dan dalem. Filosofi si filsafat itu bisa diterima dengan akal sehat.
Buat orang yang pernah di posisi orang itu –diputuskan/patah hati/sakit hati karena seseorang yang dicintainya ternyata tidak mencintainya/malah meninggalkannya-, cerita ini merupakan hiburan. Bunga musim semi yang mulai mekar setelah musim gugur lewat. Toh ternyata ia bukan orang yang paling sedih, tapi justru orang yang membuatnya sedih adalah orang yang paling malang.
Dan buat orang yang pernah di posisi pematah hati orang, cerita ini cukup mengusik hati. Jadi bertanya-tanya apa benar ia seharusnya jadi orang yang paling sedih karena kehilangan orang yang mencintainya? Mau sebut apa? Bodoh! Karena menyia-nyiakan cinta seseorang.
Ahh, menurutku kata-kata filsafat itu, yang ternyata benar, adalah sebuah realita sadis!!

***

Yang menarik dari kisah ini adalah tentang mencintai dan dicintai.
Bedanya apa ya?
Tentu saja, mencintai adalah sebuah kata kerja aktif, sedangkan dicintai adalah kata kerja pasif.
Mencintai adalah perasaan kita terhadap seseorang dan kita sebagi pemberi, sedangkan dicintai adalah perasaan seseorang terhadap kita dan kita sebagai penerima.

Lebih bahagia mana, mencintai atau dicintai?
Menurutku, kalau mencintai itu punya sensasi sejuta rasa yang bisa dinikmati. Ada bahagia, deg-degan, kesal, harap-harap cemas, sukacita, derita, juga sakit hati. Sedangkan kalau dicintai, bahagia pasti. Ada yang memperhatikan, merasa diperlukan, dan ternyata ada juga yang cinta sama kita toh =)
Malah pernah aku baca novel teenlit waktu SMP *tapi lupa judul novelnya apa dan pengarangnya siapa, cuma ingat kata-katanya aja*. Di situ dibilang bahwa kita memang akan merasa bahagia bila dicintai, tapi bila mencintai rasanya akan lebih indah bagai menapak di surga! *tapi memang sebegitu bahagianya ya??*

Entahlah... apa sih yang aku tahu tentang cinta??
Cukup rasain aja, mencintai maupun dicintai... dan ikutin kemana hati membawa... supaya biar pun mencintai tanpa dibalas, atau dicintai tanpa membalas, apapun rasanya nanti, tidak akan ada penyesalan berkepanjangan setelahnya!
Lalu? Hanya sekadar ingin berbagi catatan =)

April 21, 2010

Perempuan Itu Istimewa Kok...

Setelah penciptaan dunia dan seluruh isinya, Pribadi membentuk satu makhluk lagi dengan cara yang ajaib. Manusia yang telah diciptakan-Nya dibuat tertidur dan diambillah tulang rusuknya. Jadilah seorang penolong baginya, seorang perempuan.

Itulah awalnya.
Dan hingga kini, kisah masih terus berlanjut…

Aku tak pernah mengerti mengapa menjadi perempuan menjadi sangat istimewa. Bahkan ada hari-hari khusus yang notabene dirayakan oleh para perempuan. Hari ini, Hari Kartini misalnya. Apakah ada hari peringatan pahlawan lainnya? *tunggu, mau diingat-ingat tapi perasaan tidak ada deh...* Bahkan yang lebih tidak adil *kadang-kadang tak adil, menurutku* adanya Hari Ibu tanpa ada Hari Ayah! *tapi katanya di luar Indonesia, ada peringatan Hari Ayah juga, benarkah?*
Apa ini tidak terlihat bahwa seperti ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan?

Tapi setelah direnungkan, memang perempuan itu istimewa kok...
Tuhan menciptakan bumi ini beserta isinya dengan mulut-Nya *perkataan-Nya*. Kemudian membentuk manusia dari debu tanah menurut rupa-Nya. Dan yang lebih mencengangkan, perempuan itu penciptaannya diambil dari tulang rusuknya laki-laki. Wouw...!!

Sebenarnya siklus hidupnya sama saja dengan laki-laki:

Setiap bayi, termasuk bayi perempuan, saat baru dilahirkan pastilah sangat mungil, lucu, dan menyenangkan. Apalagi buat orangtuanya. Setiap bayi adalah anugerah, benarkan para orangtua? Mau bersusah-susah melahirkan dan harus bangun tiap malam untuk memberi susu pun dilakukan dengan senang hati, tanpa mengeluh apalagi perasaan menyesal.

Bayi bertumbuh menjadi anak-anak. Masa dimana anak-anak banyak belajar. Belajar dari orangtuanya, sekolah, lingkungan, dan teman-temannya. Setiap yang dilihat dan didengarnya pasti diserap. Menjadi peniru dan pelaku yang baik.

Anak-anak bertumbuh menjadi remaja. Masa puber, kata orang. Masa dimana seseorang mulai mencari jati dirinya, minatnya, dan terkadang sudah tidak mau diatur. Sudah merasa hampir dewasa dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Bahkan mulai jatuh cinta.

Remaja bertumbuh menjadi pemuda/i dan orang dewasa. Masa dimana seseorang sudah dapat menentukan pilihan dan tujuan hidupnya sendiri. Mulai berkarir dan semakin berkembang. Mulai tahu rasanya mengambil suatu pilihan dan bertanggung-jawab dengan segala resiko pilihan hidupnya.

Tidak ada yang berbeda antara siklus hidup yang dialami laki-laki dan perempuan. Hanya saja memang pada dasarnya, laki-laki dan perempuan berbeda. Sifat, karakter, kebiasaan, dan responnya pastilah berbeda.

Setelah seorang perempuan muda semakin dewasa, memutuskan menikah. Babak baru pun dimulai. Bukan babak musim semi yang terus merekah. Tapi juga bersiap mengalami musim gugur. Aku percaya banget kalau hari pernikahan bukanlah tujuan akhir seorang wanita single, melainkan sebuah awal untuk memulai masa-masa baru, yang lebih rumit dan tak mudah, namun indah. Membayangkan menyatukan dua pribadi yang berbeda, dua kepala yang pemikirannya berbeda, pastilah sulit dan perlu rasa menghargai yang tinggi. Namun, menyatukan dua orang jadi satu pasti indah, ada seninya!

Masa yang melengkapi keberadaan seorang wanita adalah saat ia mengandung dan melahirkan anak. Membawa-bawa perut yang ada isinya selama 9 bulan dengan tetap harus melakukan akitfitas *tentunya ga mungkin 9 bulan mau cuti dan diam aja kan...*, itu perjuangan banget. Belum lagi, pertaruhan nyawa saat melahirkan. Wauw... rasanya pasti luar biasa banget. Antara sakit, haru, dan bahagia!

Dan ternyata memang menjadi seorang perempuan adalah suatu kebanggaan tersendiri.
Perempuan yang katanya lemah, ternyata adalah seorang yang sangat kuat.
Perempuan yang katanya cengeng *mudah terharu dan menangis*, ternyata menyimpan kelembutan dan ketegaran di hatinya.
Perempuan yang hebat bukanlah perempuan yang baik di karir dan posisinya, namun perempuan yang dibutuhkan oleh teman dan keluarganya dan dapat menjadi penolong dan pelengkap pasangannya.
Perempuan yang diciptakan secara istimewa oleh Tuhan, ternyata memang istimewa!

April 20, 2010

Semua Tentang Perempuan

Menjelang hari Kartini, aku mau mem-posting tulisan-tulisan tentang perempuan yang kudapat dari berbagai sumber. Mungkin sudah ada yang pernah baca atau melihat atau mendengar tulisan berikut. Dan tanpa bermaksud mendiskriminasikan kaum laki-laki, aku bermaksud mendedikasikan tulisan ini untuk para perempuan.


Pada hari penciptaan perempuan, Malaikat bertanya kepada Tuhan, “Apakah keistimewaan dari ciptaan-Mu ini?”

Lalu Tuhan menjawab, “Ada banyak keistimewaan yang dimiliki oleh ciptaan-Ku ini :
Di balik KELEMBUTANNYA, dia memiliki KEKUATAN yang begitu dahsyat;
TUTUR KATANYA merupakan KEBENARAN;
SENYUMANNYA adalah SEMANGAT bagi orang yang dicintainya;
PELUKAN dan CIUMANNYA bisa memberi KEHANGATAN bagi anak-anaknya;
Dia TERSENYUM bila melihat temannya tertawa;
Dia TERHARU bila melihat anaknya jadi juara;
Dia MENANGIS bila melihat kesengsaraan;
Dia mampu TERSENYUM di balik KESEDIHANNYA;
Dia sangat GEMBIRA melihat kelahiran dan begitu SEDIH melihat kematian;
tetesan AIR MATANYA bisa membuat PERDAMAIAN..”

Lalu Malaikat berkata, “Wow, sebegitu ISTIMEWAKAH SETIAP PEREMPUAN, Tuhan??”

Tuhan menjawab, “Ya, tapi mereka sering lupa satu hal...”

”Apa itu, Tuhan?” tanya Malaikat.

”Mereka sering lupa bahwa......MEREKA BERHARGA!”

(sumber: notes facebook temanku, Aida Trisno)


Perempuan mempunyai banyak hal untuk membentuk identitasnya. Tubuh indah, penampilan menarik, karier bagus, prestasi, dan pasangannya. Takjubnya, itu semua bukan yg penting buat Tuhan. Tuhan mencintai kita sebagaimana kita ada dan menciptakan jiwa dalam tubuh kita untuk bisa mengenal dan berhubungan dengan-Nya. Inilah identitas terbaik tentang kita yang kita saya punya.
(sumber: update status facebook Miranda Mega Tania)


Semua ada waktunya, ada masanya... Ketika seorang wanita belajar menikmati setiap masa yang “diijinkan Tuhan” mewarnai hidupnya, maka kecantikan batiniahnya takkan pudar karena dia percaya semua tetap di dalam kendali Tuhan.
(sumber: update status facebook Febe Frisela)


Jadi perempuan itu harus elegan dan berkelas, bukan dari penampilan, tapi dari tutur kata, sikap, dan respon. Because we are precious!
(sumber: update status facebook Grace Melania)


A woman is the most beautiful creation of God... You can feel her innocence in the form of a Daughter, her care in a Sister, her warmth in a Friend, her passion in a Lover, her dedication in a Wife, her divinity in a Mother, her blessing in a Grandma.
(sumber: sms Deean Puadjole *ga tahu sumbernya darimana*)


Jadi berbahagia dan bersyukurlah kita diciptakan sebagai perempuan, serta hargailah dirimu sendiri, para perempuan, karena kita memang berharga! :)

Untuk Wanita Pejuang Masa Kini

Bunda – by: Edward Chen
Tiada yang terbaik selain dirimu
Tiada yang dapat menggantikan engkau
Kau bunda yang kusayang
Wanita yang tak mudah’ tuk menyerah

Seringkali kukecewakanmu
Namun kasihmu tulus adanya
Kau yang t’lah merelakan
Memberikan s’galanya bagi kami

Reffrain:
Entah bagaimana kudapat membalasnya
Dan sekalipun hujan badai menerpa
Hanya doamu bunda yang b’riku kekuatan
‘Tuk kujalani hidup ini
Kutahu kaulah bunda yang terbaik


*

Hikz...hikz...aku terharu dengan lagu ini!
Aku belum jadi bunda, tapi aku punya bunda yang luar biasa...
Dan lagu ini kudedikasikan untuk para mama-ibu-bunda dimanapun berada,
spesial untuk mamaku... :)
*bukan hari ibu sihh, tapi peringatan hari Kartini membuatku teringat akan wanita-wanita pejuang masa kini. Yang bukan lain, adalah IBU di seluruh dunia...*

April 13, 2010

Terima Kasih, Sahabat

Dulu, mataku tak beratap,
Dinding beku yang tak tembus cahaya,
Buram, tak bercerita...

Tapi sepiku mulai terbelah,
Riangnya merintih pasrah,
Dia mulai pergi,
Hilang...

Dari mimpiku yang tak beralaskan bantal,
Buaianku mulai tersadar,
Aku bangun dari lamunan...

Warna biru yang hitam,
Juga hijau yang memutih,
Semuanya sirna,
Tapi aku tak tahu
Apa benciku akan muncul kembali...

Walau begitu,
Aku tersenyum dalam hati,
Berkata lewat tulisan tak berhuruf
Yang berteriak meriah dalam bahagia,
Terima kasih, sahabat...


***

Catatan Penulis:
ini salah satu tulisan favoritku jaman SMA, dari sahabatku, Irwan Juanda :)

Masih Ada Hati untuk Mereka?

Aku sama sepertimu,
Aku bukanlah malaikat sempurna

Aku juga pernah hidup di lumpur... bermain-main liar hingga kotor...
Tapi aku sudah keluar dari sana dan tak pernah terbesit untuk kembali kotor!

Dan sekarang aku ingin membantumu
Maukah kamu keluar dari lumpur juga?
Aku tak jamin kita bisa bertahan, bila kita tak saling menopang

Bermain di lumpur itu menyenangkan...
Pun di sana banyak teman-teman kita

Tapi tugas kita bukan turut bersama bermain di lumpur
Namun menarik mereka dari sana dan mendampingi mereka di daratan...bersih kembali...

Apa kamu masih ada hati untuk itu?
Aku takut…
Pesimis dan membatu hampir menghampiriku

Kau yang Terbaik

Waktu yang telah lalu
Memberikan banyak pelajaran
Warna-warni hidup
Membuat kita makin bijak

Tak ada yang lewat
Tanpa Kau turut bekerja
Tak satupun ada
Tanpa Kau terus di sampingku

Hanya Kau yang setia
Hanya Kau yang terbaik
Tak pernah kecewakan
Selalu ada bagiku

RencanaMu terindah
KasihMu yang terbesar
Mengisi ruang hampa hatiku
Selamanya

It's For You...or Me..?!

Ingin berteriak
Kalau boleh, menikamnya dengan kata-kataku
Bila boleh pula, memuntahkannya keluar,
karena aku tak dapat menelan dan mencernanya!!

Berapa lama lagi mau terkurung dalam ruang keegoan?
Berapa lama lagi memakai topeng kemunafikan?

Hai, yang di luar dan di dalam harus sama!
Motivasi benar menyertai setiap tindakan,
24 jam sehari…
Bukan hanya saat musik dimainkan dan penyembahan dinaikkan…

Siapa di Cermin?

“Hai, siapa kamu?”

Suara cermin itu membuyarkan kesadaranku
Ia memelototi aku dan menghardik tajam
Aku siapa?

Terlintas tanya…
Siapa gerangan bayangan di cermin?
Jelas, itu aku!
Dan ia bertanya, aku siapa – siapa kamu?

Kamu dan aku…
Satu…
Yah, kita satu!
Terpantul dari bayangan cermin itu

Aku bertanya siapa kamu
Kamu bertanya siapa aku

Oh, ke mana perginya ‘aku’?
Ia lama menghilang…
Bahkan ‘kamu’ tak mengenaliku!

Ah, biarkanlah…
Aku tetap menjadi aku,
Dengan atau tanpa kamu…

April 02, 2010

Gadis dan Kekasihnya

Gadis dikelilingi cinta. Keluberan cinta malah!
Ia bahagia. Bersenang-senang. Menari-nari... bersama kekasihnya...
Kekasihnya begitu mencintai Gadis. Pun sebaliknya...
Hidup ini indah. Sempurna!

Hingga suatu ketika, Gadis harus pergi berkelana.
Kekasihnya yang memutuskan. Ia ingin Gadis melihat dunia luar, dunia selain dirinya. Ia ingin memastikan bahwa Gadis menyadari bahwa cinta dirinyalah yang terbaik daripada cinta di luar sana, sebelum memutuskan untuk menikah kelak.

Petualangan Gadis dimulai. Di masa-masa awal, ia begitu merindukan kekasihnya. Ia merasa kesepian, hampa, dan kurang. Ada bagian dari dirinya yang tertinggal bersama kekasihnya, hati dan cintanya. Gadis merasa tidak utuh.
Di saat itulah Gadis yakin bahwa hidupnya memang diciptakan untuk berpasangan dengan kekasihnya, bukan yang lain. Cuma kekasihnya yang bisa menyempurnakan hidupnya yang tidak utuh ini.

Tetapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Beberapa waktu berkelana, membawa ia berkenalan dengan teman-teman baru, pria dan wanita.
Mereka adalah teman yang menyenangkan. Selalu ada saat Gadis sedang sendirian dan bermimpi buruk. Selalu bersama Gadis ke mana pun mereka berjalan.
Gadis bahagia sekali. Bercerita. Berbagi. Tertawa, sedih, bahkan kadangkala kelaparan bersama. Ini dunia baru yang menyenangkan, pikir Gadis. Gawatnya, Gadis mulai lupa pada kekasihnya.

Sampai suatu ketika, salah seorang teman pria Gadis menyatakan bahwa ia menyukai Gadis. Ini suatu hal yang baru baginya. Seorang pria menyatakan isi hatinya!
Gadis bingung. Namun, ia juga deg-degan. Dan tidaklah mungkin ia membohongi dirinya sendiri. Ada suatu perasaan aneh di sini, di hatinya...
Selain perasaan deg-degan di hadapan teman prianya ini, Gadis juga merasakan suatu sensasi rasa baru yang berbeda, yang belum pernah ia rasakan. Ia sulit mengungkapkannya. Entah apalah namanya!
Lalu, ia harus bagaimana? Situasi ini tidak familiar baginya. Ia tidak tahu harus bagaimana: apakah harus dijawab atau dibiarkan saja? Kalau dijawab, ia harus jawab apa?

Syukurlah teman pria Gadis tidak memaksa untuk mendapatkan jawaban. Namun, dari perhatian dan sikap yang diberikannya pada Gadis, siapa pun akan menebak bahwa Gadis dan temannya itu menjalin hubungan.
Pun Gadis tidak merasa keberatan. Ia senang mendapatkan suatu perhatian yang spesial. Naluri wanitanya merasa ia dilindungi dan berharga karena dicintai. Ia bahagia...

Di seberang sana, kekasihnya tetap menunggu Gadis kembali. Ia tetap yakin bahwa cintanyalah yang terbaik.
Ia tidak takut Gadis merasa bahagia di sana bersama teman-temannya atau terpikat pada pria lain sehingga Gadis tidak mau kembali lagi. Ia tetap yakin kalau Gadis pastilah akan menyadari bahwa di dasar hatinya, Gadis mencintainya.
Waktu-waktu cinta yang telah ia dan Gadis lalui tidaklah mungkin tidak membekas di hati Gadis. Walaupun mungkin Gadis melupakannya, itu hanya sementara, saat semuanya masih bahagia. Suatu saat, Gadis pasti menyadarinya, kekasih Gadis yang terbaik adalah dirinya. Itu keyakinan hatinya!

730 hari berlalu... Gadis mulai merasakan ketidakcocokan dengan teman-temannya. Rasa ego mulai berkuasa atas diri masing-masing. Tidak ada lagi kerjasama, senasib-sepenanggungan, dan solidaritas antar-mereka. Tiap-tiap orang mulai hidup untuk kepuasan dan kepentingannya sendiri. Gadis mulai mengerti perasaan sakit dikecewakan dan ditinggalkan temannya. Pun teman pria yang selama ini menemaninya, mulai banyak mengeluhkan kelemahan-kelemahan dirinya.

Gadis merasa ini bukan dunianya lagi. Ini kejam, bahkan terlalu kejam. Kini, Gadis lebih banyak menyendiri di tempat rahasianya, di kamarnya.

Gadis cuma bisa bersedih di kesendiriannya. Ia sudah hampir lupa, bagaimana cara tertawa dan apa yang bisa membuatnya tertawa... Bahkan ia benar-benar tak ingat, kapan terakhir kali ia merasa benar-benar bahagia!

Angin berhembus melewati jendela kamar Gadis. Angin yang membuat tangan dan tubuh Gadis kedinginan secara tiba-tiba, justru membawa rasa damai dan kehangatan yang dikenalnya. Hatinya bergejolak. Rasa rindu muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan sosok seseorang terlintas di benaknya. Kekasihnya!

Gadis teringat pada kekasihnya! Seseorang yang pernah membuat dirinya merasa sangat bahagia. Seseorang yang melimpahinya dengan cinta yang tidak pernah luntur. Seseorang yang merelakannya untuk melihat keindahan di luar dan mengijinkannya untuk kembali kapan pun ia mau kembali. Seseorang yang dilupakannya dalam 730 hari ini!

Apakah kekasihku masih menungguku? pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba di benaknya ini membuatnya khawatir. Gadis takut kalau kekasihnya telah lelah menunggu dan kemudian mencari cintanya yang lain. Tapi bukankah kekasihnya pula yang membuat Gadis jadi seorang diri di sini, sekarang?

Gadis teringat masa-masa itu. Waktu sebelum 730 hari yang baru dilaluinya ini. Hari-hari di mana ia selalu dapat tertawa, merasa tenang, dicintai, dan berlimpah kebahagiaan. Gadis ingat akan besarnya cinta dan pengorbanan kekasihnya. Gadis benar-benar merindukannya. Air menetes dari ujung matanya. Sebuah sensasi baru. Gadis tahu orang-orang menyebutnya menangis. Ya, Gadis menangis. Ia bukan menangisi kekasihnya. Ia justru menangis karena menyesal, mengapa telah begitu lama ia melupakan kekasihnya itu!

Sementara, di seberang sana, kekasihnya menatap ke arah langit. Angin masih terus berhembus, menghantarkan rasa dingin pada tiap tubuh. Mungkin sebentar lagi, hujan akan turun. Entah mengapa, rasa rindu dan cintanya yang meluap-luap belakangan ini, hari ini mencapai puncaknya. Ia merasakan ada sentuhan lain di hatinya, selain rasa rindu dan cintanya itu. Gadis, aku masih menunggumu. Kalau kau mau pulang... Ia tersenyum dan hujan pun mulai turun.