Mei 28, 2010

Tentang Sesuatu yang Mengusik Kenyamananku

Terimalah apa adanya…
Saat aku pahit dan manis
Saat aku cantik dan jelek
Saat aku tersenyum dan marah
Saat aku bawel dan diam
Saat aku murah hati dan jutek
Juga saat aku jatuh dan bangun

Kenali jiwaku, bukan topengku
Kenali kedalaman hatiku, bukan luaran sikapku

Apa yang kau cari dariku?
Apa yang kau tuntut dariku?

Aku manusia biasa, tak sempurna
Aku masih belajar untuk menjadi utuh

Sayap kecil di hatiku muncul
Saat ada yang mengerti aku apa adanya
Atau hanya sekedar berusaha mengerti aku

Taukah kamu,
Kamu berarti bagiku?

Tembok hati ini sulit ditembus
Entah dipegang siapa kuncinya!

Tapi percayalah,
Hati ini selalu terbuka untuk kamu yang mau mengerti
Kamu yang mau belajar mengerti aku apa adanya
Kamu yang mau berbagi tentang keajaiban-Nya dalam hidupmu
Kamu yang membuat topengku lepas semua
Kamu yang dapat mengenali jiwaku

Kejadian di Hotel yang Membuatku Miris

Selama ini, aku merasa hidup ini sangat adil!
Seringkali aku mengalami dan melihat kenyataan itu dengan mata kepala sendiri,
bahwa hidup ini adil dan Tuhan sangat baik!

Walaupun ada yang kaya dan miskin,
cantik dan tidak cantik,
tampan dan tidak tampan,
sehat dan sakit,
pintar dan kurang pintar,
cacat dan tak kekurangan suatu apapun...
Itu bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan bentuk keadilan-Nya
Ia menciptakan setiap orang berbeda-beda,
Untuk dapat saling melengkapi...
Kelebihan yang satu menutupi kekurangan yang lain, dan sebaliknya…

Kalau semua orang kaya, siapa yang akan jadi karyawan dan perlu bantuan orang lain?
Kalau semua diciptakan cacat, alangkah malangnya nasib ciptaan yang katanya paling mulia ini!
Maka dengan segala kebijaksanaan dan hikmat-Nya, Ia menciptakan keanekaragaman.

***

Beberapa waktu lalu, sebuah kesempatan membahagiakan datang. Ada acara kantor, yaitu makan siang di sebuah hotel berskala internasional...
Namun, sayang...karena hari Sabtu aku ada jadwal kuliah, jadi aku urung ikut.
Aku taat jadwal kuliahku dan mengorbankan kesempatan makan mewah gratis –yang belum tentu datang setahun sekali–

Hari Senin-nya, aku cuma mendengar ketidakpuasan teman-teman kantorku. Ternyata mereka datang ke hotel itu terlalu siang. Mereka pun makan dengan tergesa-gesa karena restoran di hotel itu mau tutup –akan ada pesta pernikahan menjelang sore di hotel itu, jadi mereka tutup lebih awal–.

Yang membuatku miris bukan tentang teman-teman kantorku, tapi tentang perlakuan hotel itu –dan kuyakin semua hotel berbintang lainnya– bahwa setiap makanan yang sudah dihidangkan, habis atau pun tidak habis, sudah disentuh maupun belum tersentuh sama sekali, tetap dimasukkan ke dalam kantong sampah!

Aku setuju kalau makanan sisa dimasukkan ke dalam kantong sampah. Siapa juga yang kuat makan makanan sisa... Tapi ini kasusnya, makanan yang udah disediakan dan belum tersentuh sama sekali juga dibuang!!

Aduuuhhh... tiap pulang kampus miris banget lihat orang-orang, dari orangtua sampai anak-anak di jalanan dan lampu merah yang hidupnya susaaahhh bangeeettt, dan pastilah untuk makan pun mereka susah!
Tapi sekarang di sebuah hotel skala internasional, makanan yang masih belum tersentuh, bersih, penuh, dan lezat dibuang begitu saja... Haizzz!! T-T

Sakit hati... Miris rasanya mendengar kejadian di hotel itu!!!

Mei 03, 2010

Benarkah Tidak Ada yang Kebetulan?

Waktu itu aku pergi nonton sama ciciku. Di satu tempat yang baru dibuka dan masih sepi. Berhubung tempatnya baru, maka nonton di sana masih murah *harga promo*, dan nontonlah kami di sana.

Sehabis nonton, aku sama ciciku didatangi sama SPG yang menawarkan barang gratis. Tadinya memang mau cuekin aja, tapi mendengar kata ‘barang gratis’, aku jadi penasaran. Aku hanya ikut SPG itu dengan insting negatif: masa iya sih hari ini masih ada yang gratis. Barang kayak apa sih yang mau dibagi gratis itu? Alhasil, ternyata aku dibagi gratis cairan pembersih, bisa untuk membersihkan kaca, barang elektronik, meja-kursi, barang-barang yang terbuat dari emas-logam-besi-kayu. Aku pun tak yakin cairan itu bisa berguna buatku. Tapi tak apalah kubawa pulang, toh siapa tahu mamaku mau coba pakai.

Kuakui SPG itu memang pintar. Setelah ditawari barang gratis, aku diajak ke counter-nya. Disanalah aku dikasih cairan pembersih gratis itu. Sambil duduk, aku disuruh catat nama, alamat, dan nomor telepon. Sambil diajak ngobrol, tanya aktifitas sehari-hari, tersebutlah mereka juga berpromosi barang elektronik. Nah, mereka menawarkan kami ambil promosi itu, siapa tahu dapat voucher discount dan bisa digunakan saat mereka pameran bulan berikutnya. Ya, kami ambillah voucher itu.

Aku disuruh pilih 1 dari 5 amplop yang tersedia. Di dalam amplop itu, tertera jumlah rupiah voucher discount kami. Dia menyebutkan dalam 5 amplop itu, voucher paling besar bernilai Rp 500.000,- dan ada 1 amplop yang menyatakan anda belum beruntung. Maka, kuambillah 1 amplop itu, aku masih ingat, aku pilih amplop ke-2 dari kanan.

SPG itu suruh aku buka sendiri amplopnya dan menyebutkan nominal discount yang aku dapat. Deg-degan. Kayak buka kotak undian aja, hehe... Setelah dibuka, aku yang pertama kali lihat nominal itu dan sangat terkejut.

Karena tak terlalu yakin campur kaget juga, aku bertanya lagi sama SPG itu, “Emang paling besar itu, nominal Rp 500.000,- ya?”
SPG itu jawab, “Iyaa...” sambil menunjukkan bukti-bukti voucher yang udah diambil dan memang paling besar segitu. Sudah ada yang dapat nominal segitu sebelumnya.
Lalu SPG itu jadi penasaran juga, “Ade dapat voucher yang berapa?”
Aku yang tak percaya campur aneh, cuma menunjukkan voucher yang aku dapat ke SPG itu. Kali-kali aja aku yang memang salah lihat.
Nominal voucher aku Rp 1.000.000,-

SPG itu sampai terkejut banget! Tapi sekali lagi kupuji, dia pintar!
Di balik voucher itu, ada bagian yang bisa digosok. SPG itu menjelaskan bahwa aku harus menggosok bagian itu dengan koin. Karena ternyata, voucher itu harus langsung digunakan saat itu juga. Membeli salah satu barang elektronik tersebut dengan harga promosi *bukan harga sebenarnya* dan mendapatkan potongan sebesar nominal voucher itu.

Bila setelah digosok yang muncul adalah gambar satu buah bola, maka aku mendapat satu bonus barang elektronik.
Bila yang muncul adalah gambar dua buah bola, maka aku mendapat dua bonus barang elektronik.
Dan bila yang muncul adalah gambar tiga buah bola, maka aku berhak mendapat tiga bonus barang elektronik.
Kali ini, aku yakin semuanya tak gratis. Pasti aku disuruh beli satu barang. Tapi apa salahnya mencoba peruntunganku. Aku bisa dapat nominal discount Rp 1.000.000,- yang bahkan SPG-nya pun tak tahu. Siapa tahu setelah kugosok, akan ada kejutan berikutnya.
Dan ternyata benar! Setelah kugosok, gambar yang muncul adalah EMPAT buah bola.

Aku cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum, plus tak percaya. Dan SPG itu lebih terkejut lagi. Dia sampai bilang, “Ade pakai jampi-jampi apa, sampai semuanya serba istimewa gini?” tanyanya. Sambil bercanda, tentu saja.
Mana mungkinlah kujampi-jampi. Kudoakan saja tidak! *maksudnya, waktu milih voucher itu aku bahkan ga berdoa, apalagi pake mantera, jampi-jampi. Non-sense!!

Daripada terkejut tanpa kepastian, SPG itu menelepon ke atasannya.
Dia ceritain semuanya! Dari aku dapat voucher Rp 1.000.000,- sampai EMPAT bola itu. Sepertinya, atasan SPG itu menanyakan kode-bar voucher itu. Setelah itu, SPG itu cuma senyum-senyum, lalu menutup teleponnya.

“Selamat, De. Ternyata voucher ini adalah grand-price. Nominal tertinggi memang Rp 1.000.000,- dan cuma ada 1, cuma ade yang dapet... Dan tahu ga, arti empat bola itu? Itu artinya, ade berhak membawa bonus 5 barang elektronik yang ada disini... Wahh, selamat yahh...” ucap SPG itu menyalami aku dan ciciku.

Aku sama ciciku cuma bingung.
Kebingungan pertama, kok SPG itu sih yang hepi banget sih, padahal kami yang dapat grand-price biasa-biasa aja loh...
Kebingungan kedua, terus kalau dapat 5 bonus, tetap mesti beli 1 barang promosi kan... Kalau beli yang pulang murah aja, dipotong discount Rp 1.000.000,- yang aku dapat, tetap aja mesti bayar sekian juta. Wahh...!!

SPG itu terus melanjutkan kebahagiaannya. Aneh banget, asli aneh! Aku yang dapat 5 bonus barang elektronik, dia yang sangat antusias tiap kali menyebutkan barang yang kami dapatkan. Bonus AC dan kawan-kawan elektroniknya yang aku dapat itu, total harganya *ada di daftar harga promosi yang SPG itu pegang* Rp 9.000.000,-. Itu bisa kudapat gratis kalau aku membeli satu barang *boleh yang paling murah, seharga Rp 3.000.000,- dan ingat aku dapat voucher Rp 1.000.000,- jadi aku tinggal membayar Rp 2.000.000,- untuk 6 barang elektronik*.

Tahu apa yang aku dan ciciku katakan waktu SPG itu hendak menulis catatan dan meminta fotokopi KTP kami?
“Thanx ya, Mbak. Tapi kayaknya gak deh...”
SPG itu sampai kaget, “Hah? Kenapa? Sayang lohh... Kamu udah beruntung banget... 6 barang ini dengan bayar Rp 2.000.000,- aja, De. Padahal kalau kamu beli 6 barang ini, mesti keluarin Rp 12.000.000,-... Sayang bangeeettt...”
“Gak deh, Mbak... Kami masih mau pake uangnya buat keperluan lain lagi...” kataku.
“Yakin nih, De? Kalo ade gak mau, maaf banget, voucher-nya mesti disobek... Ga nyesel? Kita bisa bantu kok. Sekarang bayar DP aja, berapa ade bawa duitnya. Nanti dikirim barangnya, baru bayar sisanya lagi aja...”
Aku sama ciciku cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Sedikit tak enak rasanya!
“Jadi disobek aja nih?” SPG itu melanjutkan. Kecewa banget loh dia!
Cici aku mengangguk. Dan disobeklah voucher itu...
“Nanti bulan depan kami pameran di mall ***Pluit. Kalau bisa, ade datang aja. Siapa tahu, berminat beli...” SPG itu menawarkan.
“Iya. Makasih...” jawabku sambil beranjak dari kursi.
Aku sama ciciku akhirnya keluar dari counter itu...

Sepanjang jalan itu, aku sama ciciku cuma geleng-geleng kepala. Lucu. Aneh.
Pertama, kami tidak menyangka kalau kami seberuntung itu. Bisa dapat grand-price...
Kedua, kami minat juga sih. Dapat 5 bonus barang elektronik + 1 barang yang harus kami beli dengan harga hanya Rp 2.000.000,-. Padahal harga aslinya, seperti yang kami lihat sendiri di daftar harga barang promosi itu Rp 12.000.000,- (Rp 9.000.000,- untuk bonus dan Rp 3.000.000 untuk barang yang harus kami beli). Tapi keadaan memang sedang tidak memungkinkan untuk saat itu!

Anyway, masih percaya dengan kalimat Tidak ada yang kebetulan. Segala sesuatu terjadi karena ada alasannya? Ingin sekali percaya!!
Tapi sampai sekarang, aku tak habis pikir. Apa alasan kejadian itu terjadi sama aku dan ciciku waktu itu?
Pertamanya, aku coba-coba mengambil voucher itu *secara aku tak tahu kalau voucher itu mesti langsung digunakan! Kupikir kalau bisa disimpan, kan lumayan. Siapa tahu besok-besok aku bisa beli barang elektronik dia dengan voucher itu*.
Setelah tahu bahwa aku beruntung dalam hal ini, lagi-lagi aku mencoba berjudi tentang peruntunganku dengan menggosok bagian tersembunyi itu. Dan ternyata memang aku sangat beruntung...
Tapi sayangnya, keberuntunganku tak sempurna...
Bahagia karena keberuntungan itu berbanding terbalik dengan hasil nihil yang aku dapatkan saat aku pulang dari tempat itu.

Memang kalau belum rejeki, gak bisa dipaksakan. Tapi Tuhan, aku boleh minta kan?
Kalau waktunya pas, aku mau seberuntung itu lagi. Dan keberuntunganku sempurna...
Gak jadi dapat yang kemarin, gak masalah. Karena aku akan dapat yang jauh lebih baik lagi. Berkali-kali lipatnya... =D
Amin...!!