Pertandingan yang masih hangat di otakku adalah pertandingan hari Senin (21 Juni) dini hari, partai Brasil vs Pantai Gading. Mengapa masih hangat? Alasan pertama, ini pertandingan dini hari pertama yang aku saksikan setelah 10 hari berlangsungnya Piala Dunia. Alasan kedua, yang tampil adalah Brasil, di mana salah satu pemainnya adalah favoritku, Kaka =)
Walaupun aku kebangunnya telat, sehingga baru nonton setelah Brasil unggul 2-0, tapi bersyukur juga bangun telat, daripada ga nonton sama sekali. Karena kalau dengar dari cerita orang, aku akan percaya kalau Brasil menang 3-1 dari Pantai Gading, tapi aku akan sulit percaya dan bertanya-tanya, gimana ceritanya Kaka bisa sampai dikeluarkan karena dapat kartu merah =(

Aku pribadi ga kenal sih sama Kaka *ya iyalah, dia di Brasil aku di Indo, gimana kenalannya, hehe*, tapi yang aku tahu dari media dan bahkan follow jejaring sosialnya Kaka *yang isinya banyakan bahasa dia, dan aku ga ngerti sama sekali*, kutarik kesimpulan bahwa Kaka adalah tipe pemain yang bisa bersinar di lapangan hijau. Selain tampangnya yang OK, kemampuan permainannya yang hebat, sering mencetak gol pula, dia adalah sosok yang berani menyatakan imannya. Pertama kali terkagum saat ia masuk majalah, ia bercerita tentang hubungannya dan kekasihnya *yang sekarang udah jadi istrinya* yang terus berjuang menjaga kekudusan sampai memasuki pernikahan. Di balik kaus Brasil-nya, ada kaus yang bertuliskan “I belong to Jesus”. Lalu dalam jejaring sosialnya, ia pernah menulis status: Nothing to do? Pray! Something to do? Pray! Pray all the time! dan Today in Sao Paulo a very special day. Mach to Jesus 2010! People of God declaring that Jesus is the one and only Savior *tapi aku ga tau apa itu Mach to Jesus 2010...*
Makanya, kalau aku ga nonton sendiri waktu Kaka dapat kartu merah (akumulasi dua kartu kuning), sulit banget percaya!
Kalau boleh membela, semua juga tahu gimana barbar-nya Pantai Gading. Dari sejak lawan Portugal *sampai Christiano Ronaldo pun dapat kartu kuning*, sampai kemarin lawan Brasil, aku mengkategorikan Pantai Gading sebagai tim yang menjurus kasar! Jadi wajarlah seorang pemain kepancing emosinya *lah wong yang nonton aja, emosi!!*
Dan lagi memang Kaka menyikut dada pemain Pantai Gading *entah sengaja atau tidak*, tapi anehnya, pemain Pantai Gading itu setelah disikut malah pegangin mukanya *seolah-olah mukanya yang disikut...memang sikutan dadanya ga sakit yaa? Perlu lebih keras kayaknya* dan jatuh pula *mau narik perhatian wasit yaa??*. Itu yang menurutku ga fair. Okelah, Kaka salah. Tapi pemain Pantai Gading-nya juga penuh acting!
Sampai-sampai setelah pertandingan, aku update status facebook:
Hidup sama kayak maen sepakbola. Terus berlari mencapai tujuan, lakuin usaha yang terbaik, namun ada kalanya juga rasa jenuh plus emosi datang, yang kalau ga dikontrol tetap berdampak buruk akhirnya... *sedih, Kaka dapet kartu merah di partai Brasil vs Pantai Gading.
Oke... Sekian dan terima kasih ulasan singkat tentang Kaka. Mungkin Kaka masih harus belajar untuk tidak terpengaruh suasana lapangan kali yaa...dan berespon lebih tepat.
Now, about me!
Setelah mengingat-ingat lagi kejadian Kaka, aku jadi merenung lagi...
Pertandingan sepakbola memang salah satu cermin yang baik untuk kita bisa melihat gambar diri kita sendiri.
Aku langsung teringat pada kejadian hari Minggu pagi. Aku ujian akhir semester. Sebenarnya, aku sudah belajar malamnya sampai pukul 01.30. Tapi ga tahu gimana ceritanya, aku tetap tidak bisa maksimal dalam mengerjakan soal-soal ujianku itu.
Okelah, aku terima. Aku memang tidak bisa di ujianku ini, mungkin karena aku kurang maksimal belajarnya.
Tapi ada juga hal yang tidak bisa kuterima dan terus kuocehkan *makasih buat mama-papa, yang udah jadi tempat ocehanku =)*
Teman-temanku yang juga tidak bisa ujian, bisa nyontek sana-sini supaya nilai ujiannya bagus!
Tujuan aku dan teman-temanku sama, maunya dapat nilai yang terbaik [bandingkan dengan para pemain sepakbola yang sama-sama memiliki tujuan mencetak gol sebanyak-banyaknya dan menjadi tim juara].
Namun, aku pribadi berusaha sebaik mungkin yang aku mampu, tapi mereka berusaha dengan cara apapun untuk tujuan itu [bandingkan dengan pemain-pemain yang ga segan-segan bermain kasar atau melakukan tipuan-tipuan dengan pemain yang mengutamakan disiplin dan ketekunan mengejar bola].
Ternyata ada kalanya juga aku emosi, mengumpat, dan menyalahkan pengawas ujian yang menganggap enteng tugasnya dan membiarkan begitu saja ketidakcurangan itu terjadi [bandingkan dengan pemain yang akhirnya kepancing emosi, akhirnya kasar dan mengumpat, juga dengan mudahnya menyalahkan wasit].
Tapi kalau mau balik lagi, segala sesuatu ternyata adalah proses. Dan segala sesuatu bukan tentang benar dan salah *karena seringkali penilaian benar dan salah orang zaman sekarang itu berbeda-beda*, tapi bagaimana respon kita atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita dan terhadap kita.
Semoga kesamaan-kesamaan peristiwa ini terus membuatku belajar untuk bisa berespon lebih baik dan lebih tepat lagi. Secara manusia, aku kecewa dan kesal. Tapi aku percaya Tuhan itu adil, baik, dan memperhitungkan hal-hal kecil sekalipun, yang kadang terlewatkan oleh manusia.
Sumber gambar: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/06/21/150378/262/4/Kaka-dapat-Kartu-Merah-Brasil-ke-Babak-16-Besar