“Tuhan, aku capek bangeettt! Aku lelah sama semuanya! Kenapa sih semua yang aku lakukan seolah nggak ada gunanya? Selama ini aku begitu yakin akan mencapai mimpi-mimpiku, tapi kenapa sekarang rasanya mimpi itu mustahil aku dapatkan? Aku tahu hidup itu seperti roda, kadang naik-kadang turun. Tapi kenapa SEKARANG sih rodanya turun ke bawah? Saat aku merasa satu langkah lagi mimpi itu terwujud, malah aku diterjunkan ke bawah tanpa aba-aba sama sekali? Engkau tahu kan, Tuhan... aku sudah berusaha, aku sudah berjuang, aku selalu melakukan yang terbaik yang aku bisa, aku selalu melibatkan Engkau di dalam segala yang aku lakukan... tapi kenapa malah aku dihempaskan seperti ini?”
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Air mata sudah membanjiri mataku tanpa bisa dibendung. Dan aku hanya membiarkannya mengalir keluar. Sepuas yang ia mau!
Tanpa sadar, isak tangis membawaku terlelap. Aku tertidur. Karena hari sudah malam. Karena aku pun lelah. Lelah menahan segala kekalutan, kekecewaan, dan keputusasaanku. Aku merasa lelah pada fisik, pikiran, perasaan, hati, dan hidupku.
***
Keesokan paginya, aku bangun tidur dengan senyuman. Tidak seperti keadaanku semalam. Kali ini wajahku segar. Hatiku bersukacita. Dan aku memanjatkan doanya.
”Tuhan, terima kasih. Aku siap melewati apapun. Aku siap menggapai mimpiku. Aku siap menuju puncak, tepat seperti pesan yang Engkau sampaikan semalam dalam mimpiku. Amin.”
Aku bergegas mengambil diary-nya. Aku ingin mencatat mimpiku semalam. Mumpung aku masih ingat dengan jelas mimpi itu.
Dear diary,
Rasanya sudah lama banget deh aku nggak mimpi waktu tidur. Sudah lama banget tidurku nggak berbunga. Tapi semalam aku mimpi. Dan mimpiku itu membuatku senang sekali. Aku yakin tidak kebetulan mimpi itu menjadi bunga tidurku semalam. Aku yakin Tuhan sendirilah yang ingin menyampaikan pesan-Nya itu padaku.
Thank you, God. You’re so great!
Diary, semalam aku mimpi begini...
Aku ada di sebuah taman yang indah sekali. Penuh dengan bunga-bunga kecil. Dan yang membuat taman itu lebih indah, semuanya serba warna biru muda. Dan aku sungguh-sungguh menyukainya. Aku masih ingat dengan jelas bentuk taman itu. Ohh, andai saja aku bisa punya atau setidaknya melihat secara nyata taman itu. Pasti tiap kali aku sedih, aku akan ke sana dan mungkin saja kesedihanku akan segera hilang!
Yaa, aku berada di taman itu sendirian. Berjalan-jalan mengitari taman itu sampai kelelahan dan akhirnya aku duduk di tengah-tengah taman itu. Terus tiba-tiba seorang kakek tua datang menghampiriku. Awalnya takut sih, ada orang asing yang tiba-tiba datang malah aku sendirian kan... tapi setelah lihat wajah dan dengar suaranya, waahhh teduh banget rasanya. Seperti seorang kakek tua yang berwibawa dan bijak banget!
Ia duduk di hadapanku. Aku cuma diam, dan dia mulai bicara...
“Kakek ingin memberitahumu satu pelajaran, Nak. Hidup itu tidaklah tepat dikatakan seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Tapi yang lebih tepat, hidup adalah sebuah perjalanan menuju puncak. Dan tentu kamu tahu, bahwa perjalanan menuju Puncak itu berliku-liku dan naik-turun. Seperti itulah hidupmu, Nak...”
Kakek itu tersenyum simpul dan memegang bahuku, sebelum akhirnya ia berjalan lurus ke depan dan lenyap begitu saja. Tinggallah aku sendirian lagi di taman.
Aku memikirkan ucapan kakek itu...
Bisa dikatakan ucapannya itu tepat. Hidup tidaklah seperti roda, yang cuma naik dan turun. Dan memang begitulah siklus hidup roda. Hanya berputar-putar. Naik, lalu turun, lalu naik lagi, lalu turun lagi, begitu seterusnya... Hidup tidaklah sedangkal itu. Hanya naik-turun yang terjadi berulang.
Aku menyukai filosofinya yang kedua. Hidup adalah perjalanan menuju puncak. Yaa, dalam perjalanan ke Puncak jalanannya bukanlah lurus menanjak, namun berliku-liku, banyak tikungannya, dan naik-turun. Satu hal yang patut diingat, walaupun berliku-liku dan naik-turun, namun perjalanan itu sesungguhnya menunjuk Puncak.
Kamu tahu diary, bunga tidurku semalam merupakan yang terbaik dari yang pernah ada selama ini!
Mungkin saja kakek tua yang berwibawa dan bijak itu merupakan my Guardian Angel yang sengaja diutus Tuhan untukku.
Diary, aku mendapatkan pelajaran yang berharga banget...
Dan hari ini aku berjanji, aku tidak akan berlarut-larut dalam kekecewaan dan putus asa. Aku mau bangkit. Karena perjalananku ini sedang turun, namun tujuanku tetaplah sama. Aku akan meraih mimpi-mimpiku. Aku ingin mencapai puncak itu!
Dan aku yakin, aku bisa. Karena memang perjalananku sedang menuju ke sana. Dan yang pasti Tuhan besertaku. Buktinya, Dia mengingatkanku akan hal ini. Apalagi yang harus aku takutkan?!
Diary, aku harap kamu nggak akan pernah bosan jadi tempat curahan hatiku.
Aku ingin kamu jadi saksi atas karya-karya Tuhan dalam hidupku, perkataan-perkataan-Nya buatku, dan kemenangan-kemenangan yang aku raih dalam meraih mimpi-mimpiku.
Terima kasih yaa, Diary...
Aku menutup diary-ku. Tersenyum sukacita. Walaupun kesulitan yang baru masih akan menghadang di depanku. Karena aku tahu kesulitan itu kelak pasti akan berlalu dan ada sesuatu yang indah di akhirnya nanti.
-Vina Venylia-
Inspired by Agnes Monica. Pencetus filosofi bahwa hidup tidak seperti roda, namun perjalanan menuju puncak.
Blog ini berisi kumpulan tulisannya sendiri, dan juga tulisan-tulisan lainnya yang turut mewarnai dunia si pemilik blog. Selamat datang dan selamat menikmati dunianya... :)
Agustus 10, 2010
Agustus 02, 2010
Perjalanan Hidup
Kata orang, hidup adalah sebuah perjalanan… di mana perjalanan panjang itu akan berhenti pada satu titik. Di sini titik itu bernama kematian, sedangkan di sana bernama kekekalan.
Namun, kadangkala asiknya perjalanan, yang melalui serangkaian jalan yang mulus, tawa, dan kenikmatan; membuatku kerapkali melupakan satu titik itu. Aku lupa bahwa suatu saat perjalanan ini akan berakhir. Aku lupa bahwa perjalanan ini takkan selamanya. Aku lupa bahwa seharusnyalah perjalanan ini mempunyai tujuan akhir.
Mulai sekarang, aku akan mencoba untuk mengingat bahwa hidup pasti akan berakhir, dan terlebih lagi aku tidak tahu kapan titik akhir perjalananku itu akan tiba. Jadi, alangkah baiknya bila aku menggunakan setiap waktu di hidupku dengan sebaik-baiknya. Kata-kata klise yang sering kudengar, namun kali ini kuucapkan dengan kesungguhan.
Kuakui pula perjalanan hidupku tak selalu mulus. Walaupun aku suka mengharapkannya demikian. Yaa, aku berharap demikian bila aku lelah. Tanpa ingat bahwa bila perjalananku mulus-mulus saja, tentu takkan ada gunanya aku berjalan.
Aku bersyukur kalau ternyata perjalanan hidupku penuh warna.
Aku pernah hanya memutar-mutar padang gurun. Di sana, aku kepanasan dan kehausan. Tanpa tahu pasti arah dan langkah perjalananku. Aku berharap padang gurun itu lekas-lekas kulalui. Bukan hanya mendapatkan kepuasan fatamorgana, melainkan nyata. Karena kalau aku berlama-lama di padang gurun itu, bisa mati kehausan aku!
Aku pernah pula melalui jalan-jalan yang tak tentu arah, banyak persimpangan, bahkan jalan buntu. Mataku tak dapat melihat jalan apapun yang harus kulalui di depan sana. Jalanku benar-benar buntu. Kau tahu apa yang kulakukan? Aku diam. Aku tak berharap balik lagi di jalanku sebelumnya. Jadi, bila tak tahu arah di depan, lebih baik aku berdiam diri. Menunggu petunjuk. Menunggu ada orang yang berbaik hati dan dapat memberikanku petunjuk untuk aku melanjutkan perjalanan.
Tahu apa yang terjadi? Aku melihat jalanan setapak di depan sana. Ternyata ini bukan jalan buntu! Melainkan ada jalan setapak yang kecil dan sulit dilalui di depan sana.
Seorang yang sepertinya kukenal berkata, ”Di depan ada jalan kecil. Memang kecil dan sulit. Saat kau melaluinya, bukan tak mungkin kau bisa terluka karena duri, batu, paku, dan apapun yang ada di sana. Namun, asal kau punya kemauan dan keyakinan bahwa kau akan dapat melaluinya, kau pasti bisa...”
Aku melihat jalan setapak itu sekilas, lalu menatap Orang itu. Dengan ketidakyakinan, aku menjawabnya, ”Aku tidak berani, tapi aku mau. Aku mau melanjutkan perjalananku. Aku tidak mau kembali ke belakang. Aku tidak mau diam saja di sini, tidak beranjak kemanapun... Tapi aku tak berani...”
Orang itu tersenyum dan berkata, ”Aku akan menemanimu. Kau tak perlu keberanian untuk melewati jalan kecil itu. Kau hanya perlu tekad yang kuat. Asal kau punya kemauan, kau pasti bisa... Aku tahu kau akan dapat melewati jalan itu. Aku sudah bisa melihatnya. Karena hanya sedikit orang yang dapat melihat jalan setapak itu. Tapi kau mampu melihatnya di tengah kebuntuan ini... Percayalah, selalu ada jalan di mana ada kemauan... Mari kita berjalan bersama...”
Orang itu menggandeng tanganku dan kami bersama-sama melewati jalan yang sempit itu. Aku masih tetap sebagai aku yang tidak berani dan takut, hanya saja perkataan Orang itu membuatku yakin bahwa aku dapat mempercayai ucapannya.
***
Inspirasi dari lagu Selalu Ada Jalan – Franky Sihombing
Selalu ada jalan saat seakan tiada jalan
S’bab Tuhan ada di depanku, membuka jalan bagiku
Selalu ada jalan di mana ada kemauan
Biarlah kuhidup selalu di jalan yang Kau tunjukkan kepadaku
Namun, kadangkala asiknya perjalanan, yang melalui serangkaian jalan yang mulus, tawa, dan kenikmatan; membuatku kerapkali melupakan satu titik itu. Aku lupa bahwa suatu saat perjalanan ini akan berakhir. Aku lupa bahwa perjalanan ini takkan selamanya. Aku lupa bahwa seharusnyalah perjalanan ini mempunyai tujuan akhir.
Mulai sekarang, aku akan mencoba untuk mengingat bahwa hidup pasti akan berakhir, dan terlebih lagi aku tidak tahu kapan titik akhir perjalananku itu akan tiba. Jadi, alangkah baiknya bila aku menggunakan setiap waktu di hidupku dengan sebaik-baiknya. Kata-kata klise yang sering kudengar, namun kali ini kuucapkan dengan kesungguhan.
Kuakui pula perjalanan hidupku tak selalu mulus. Walaupun aku suka mengharapkannya demikian. Yaa, aku berharap demikian bila aku lelah. Tanpa ingat bahwa bila perjalananku mulus-mulus saja, tentu takkan ada gunanya aku berjalan.
Aku bersyukur kalau ternyata perjalanan hidupku penuh warna.
Aku pernah hanya memutar-mutar padang gurun. Di sana, aku kepanasan dan kehausan. Tanpa tahu pasti arah dan langkah perjalananku. Aku berharap padang gurun itu lekas-lekas kulalui. Bukan hanya mendapatkan kepuasan fatamorgana, melainkan nyata. Karena kalau aku berlama-lama di padang gurun itu, bisa mati kehausan aku!
Aku pernah pula melalui jalan-jalan yang tak tentu arah, banyak persimpangan, bahkan jalan buntu. Mataku tak dapat melihat jalan apapun yang harus kulalui di depan sana. Jalanku benar-benar buntu. Kau tahu apa yang kulakukan? Aku diam. Aku tak berharap balik lagi di jalanku sebelumnya. Jadi, bila tak tahu arah di depan, lebih baik aku berdiam diri. Menunggu petunjuk. Menunggu ada orang yang berbaik hati dan dapat memberikanku petunjuk untuk aku melanjutkan perjalanan.
Tahu apa yang terjadi? Aku melihat jalanan setapak di depan sana. Ternyata ini bukan jalan buntu! Melainkan ada jalan setapak yang kecil dan sulit dilalui di depan sana.
Seorang yang sepertinya kukenal berkata, ”Di depan ada jalan kecil. Memang kecil dan sulit. Saat kau melaluinya, bukan tak mungkin kau bisa terluka karena duri, batu, paku, dan apapun yang ada di sana. Namun, asal kau punya kemauan dan keyakinan bahwa kau akan dapat melaluinya, kau pasti bisa...”
Aku melihat jalan setapak itu sekilas, lalu menatap Orang itu. Dengan ketidakyakinan, aku menjawabnya, ”Aku tidak berani, tapi aku mau. Aku mau melanjutkan perjalananku. Aku tidak mau kembali ke belakang. Aku tidak mau diam saja di sini, tidak beranjak kemanapun... Tapi aku tak berani...”
Orang itu tersenyum dan berkata, ”Aku akan menemanimu. Kau tak perlu keberanian untuk melewati jalan kecil itu. Kau hanya perlu tekad yang kuat. Asal kau punya kemauan, kau pasti bisa... Aku tahu kau akan dapat melewati jalan itu. Aku sudah bisa melihatnya. Karena hanya sedikit orang yang dapat melihat jalan setapak itu. Tapi kau mampu melihatnya di tengah kebuntuan ini... Percayalah, selalu ada jalan di mana ada kemauan... Mari kita berjalan bersama...”
Orang itu menggandeng tanganku dan kami bersama-sama melewati jalan yang sempit itu. Aku masih tetap sebagai aku yang tidak berani dan takut, hanya saja perkataan Orang itu membuatku yakin bahwa aku dapat mempercayai ucapannya.
***
Inspirasi dari lagu Selalu Ada Jalan – Franky Sihombing
Selalu ada jalan saat seakan tiada jalan
S’bab Tuhan ada di depanku, membuka jalan bagiku
Selalu ada jalan di mana ada kemauan
Biarlah kuhidup selalu di jalan yang Kau tunjukkan kepadaku
Langgan:
Entri (Atom)